Korupsi Laksana Gunung Es Rizal SH Soroti Ancaman laten Korupsi Di Indonesia
Barito Selatan // Khabarindonesi.com – Salah satu tokoh masyarakat Kabupaten Barito Selatan, Rizal. SH, kembali menyuarakan keprihatinannya terhadap kondisi korupsi di Indonesia. Dalam sebuah wawancara eksklusif bersama beberapa awak media, Senin 7 April 2025, di kediaman pribadinya, beliau menyinggung fenomena korupsi yang diibaratkannya seperti gunung es.(7/4/2025).
Rizal. SH menjelaskan bahwa korupsi bukan hanya soal pelaku yang tertangkap tangan atau dihukum, namun lebih dari itu, terdapat akar persoalan yang jauh lebih dalam dan kompleks. “Permukaan gunung es itu adalah tindakan pidana korupsi yang terlihat, tetapi di bawah permukaan masih ada lapisan besar yang tersembunyi sistem, budaya, dan moral,” ujarnya.
Menurutnya, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam mengurai kerumitan korupsi karena masih banyak kerawanan atau corruption hazard yang belum diberantas secara menyeluruh. Kerawanan ini tersebar di berbagai aspek, seperti sistem birokrasi yang lemah, integritas moral yang rendah, serta lemahnya pengawasan dan penegakan hukum.
Dalam penuturannya Rizal, menyinggung pentingnya pemahaman mendalam terhadap struktur korupsi yang tidak kasat mata. “Kita tidak bisa hanya fokus menangkap pelaku. Kita harus gali lebih dalam. Apa yang menyebabkan seseorang akhirnya tergoda untuk melakukan korupsi? Di situlah pentingnya mengenali akar permasalahan,” katanya.
Lanjutnya lagi, Ia menyebut bahwa lokasi-lokasi strategis seperti sektor pajak, perizinan, dan proyek pengadaan barang dan jasa merupakan titik-titik rawan korupsi. Di tempat-tempat inilah sering kali terjadi ketimpangan besar antara wewenang yang dimiliki dan kontrol yang lemah dari pihak internal maupun eksternal.
Lebih jauh Rizal, menguraikan bahwa integritas merupakan elemen vital yang saat ini masih minim di kalangan pejabat maupun masyarakat umum. “Banyak di antara kita yang mulai terbiasa dengan jalan pintas, menghalalkan segala cara demi kepentingan pribadi atau kelompok,” ucapnya dengan nada prihatin.
Selain integritas, ia juga menyoroti rendahnya tingkat kesejahteraan yang menjadi pemicu utama seseorang melakukan korupsi. Dalam beberapa kasus, sistem remunerasi yang tidak memadai memaksa sebagian oknum untuk ‘mengakali’ penghasilan mereka melalui cara-cara yang tidak sah.
“Kita tidak bisa menutup mata terhadap realitas ekonomi. Ketika gaji tidak cukup untuk hidup layak, godaan untuk menyalahgunakan wewenang menjadi sangat besar,” tegasnya. Oleh karena itu, reformasi dalam sistem penggajian dan peningkatan kesejahteraan aparatur negara menjadi sangat penting.
Rizal, juga menyampaikan, bahwa budaya taat hukum di Indonesia masih belum terbentuk secara kuat. Bahkan, menurutnya, terdapat anggapan di masyarakat bahwa hukum dibuat untuk dilanggar. “Ini sudah menjadi pameo umum yang sangat berbahaya. Budaya seperti ini harus segera dibenahi,” tambahnya.
Dalam tuturnya lagi, pandangannya, penanggulangan korupsi harus dilakukan secara sistematis melalui pola deteksi-aksi. Deteksi bertujuan untuk mengenali potensi kerawanan dan titik-titik korupsi yang harus segera ditindak sebelum berkembang menjadi kejahatan nyata.”ucapnya Rizal.
Terus Rizal, menegaskan pentingnya sinergi antara fungsi penindakan, pencegahan, dan fungsi preemtif. Penindakan dilakukan secara hukum terhadap pelaku, pencegahan dilakukan melalui pembenahan sistem dan pengawasan, sedangkan preemtif berkaitan dengan pembentukan budaya antikorupsi sejak dini.
Rizal, juga menyoroti pentingnya pendidikan antikorupsi di semua jenjang pendidikan, sebagai investasi jangka panjang dalam membentuk generasi yang berintegritas. Ia menyarankan agar nilai-nilai kejujuran, moral dan tanggung jawab ditanamkan sejak bangku sekolah.
“Saatnya kita menumbuhkan mentalitas baru. Generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga bermoral dan berani menolak korupsi,” ungkapnya. Ia pun mengajak seluruh elemen bangsa, baik pemerintah, swasta, akademisi, maupun masyarakat sipil, untuk bersatu dalam gerakan nasional antikorupsi.
Mengakhiri wawancaranya, Rizal menekankan bahwa Indonesia masih memiliki harapan besar untuk keluar dari jebakan korupsi. Namun itu semua hanya dapat tercapai jika seluruh rakyat Indonesia memiliki kesadaran kolektif untuk menjaga integritas dan membangun sistem yang bersih dan transparan”. Pungkasnya. (Glg).






